# Pertanyaan murah yang mahal dijawab

*Biaya mencari informasi pada perencanaan pengawasan yang tinggal di berkas-berkas terpisah*

**Faizul Abrori** · Auditor, Inspektorat Aceh, Banda Aceh, Indonesia
ORCID: 0009-0005-8378-6639
Versi 1.0 · 21 September 2026

---

## Ringkasan

Perencanaan pengawasan tahunan bisa saja disusun di beberapa berkas terpisah
yang dipegang unit yang berbeda, lalu disatukan secara manual menjadi satu
dokumen. Bentuk itulah yang dibahas tulisan ini, dan ia menimbulkan satu biaya
yang jarang dihitung, yaitu biaya untuk menjawab pertanyaan tentang keadaan
sekarang.

Tulisan ini berpendapat bahwa yang mahal bukan pertanyaan yang rumit, melainkan
pertanyaan yang terdengar paling murah, dan justru karena terdengar murah,
biayanya tidak pernah terlihat. Ia dibayar berulang kali, oleh orang yang
berbeda-beda, dan tidak pernah muncul sebagai pos di mana pun, sehingga jarang
menjadi alasan memperbaiki apa pun. Akibatnya menumpuk tanpa terlihat, mulai
dari pertanyaan yang tidak lagi diajukan sampai hak membaca yang berpindah ke
pemegang berkas.

Dari situ disusun lima aturan perancangan yang ditawarkan untuk dipakai dan
diuji inspektorat lain ketika membangun atau menilai alat perencanaan
pengawasannya. Tulisan ini menyatakan aturannya beserta cara mengukurnya, bukan
hasil pengukurannya. Perbandingan sebelum dan sesudah sedang berjalan dan akan
dilaporkan terpisah.

---

## 1. Pertanyaan yang terdengar murah

Seorang pimpinan bertanya berapa sisa pagu pengawasan satu inspektur pembantu
sampai hari ini.

Pertanyaan itu tidak rumit. Ia tidak menuntut analisis, tidak menuntut
pertimbangan profesional, dan jawabannya berupa satu angka. Siapa pun yang
mendengarnya akan menduga jawabannya tersedia seketika.

Kenyataannya seseorang harus membuka beberapa berkas, memastikan mana yang
paling mutakhir, bertanya kepada pemegang berkas lain apakah ada perubahan yang
belum dikirim, lalu menghitung. Jawabannya keluar, dan semua orang menganggap
urusan itu selesai.

Tidak ada yang mencatat berapa lama waktu yang habis untuk itu. Tidak ada pula
yang mencatat bahwa pertanyaan serupa sudah dijawab beberapa kali dalam bulan
yang sama oleh orang yang berbeda-beda, atau bahwa jawaban mereka bisa saja
tidak sama, sehingga tidak ada yang tahu mana yang benar.

Inilah bentuk biayanya. Ia tidak muncul sebagai keterlambatan, karena
pertanyaannya toh terjawab. Ia tidak muncul sebagai kesalahan, karena tidak ada
yang membandingkan jawaban satu dengan yang lain. Ia hanya muncul sebagai waktu
kerja orang, dan waktu kerja orang tidak punya kolom di dokumen mana pun.

## 2. Empat biaya yang dibayar berulang

Keempat biaya itu sudah muncul dalam cerita tadi, hanya belum diberi nama.

| Biaya | Yang sebenarnya dibayar |
|---|---|
| Memastikan versi | Waktu untuk memastikan berkas yang dibuka adalah yang berlaku, bukan salinan yang tertinggal |
| Membaca perubahan | Waktu untuk mengetahui apa yang berubah sejak terakhir kali dibuka, dan siapa yang mengubahnya |
| Menyatukan | Waktu untuk menyusun kembali gambaran utuh dari potongan yang dipegang unit berbeda |
| Menunggu kiriman | Waktu untuk menunggu salinan dari pemegang berkas |

Keempatnya punya satu ciri yang sama. **Tidak satu pun menghasilkan informasi
baru.** Semuanya hanya biaya untuk sampai pada informasi yang pada dasarnya
sudah dimiliki organisasi.

Ini yang membedakannya dari pekerjaan analisis. Waktu untuk memikirkan risiko
sebuah penugasan ada hasilnya. Waktu yang dipakai memastikan berkas mana yang
berlaku tidak menghasilkan apa pun, dan tetap harus dibayar lagi besok oleh
orang berikutnya.

## 3. Mengapa biaya ini tidak pernah terlihat

**Ia terpecah menjadi potongan kecil sehingga tak seorang pun merasa
menanggungnya.** Beberapa menit di sini dan beberapa menit lagi di sana,
tersebar di antara banyak orang, tidak pernah terasa sebagai persoalan yang
layak dilaporkan. Menit-menit itu juga tidak pernah dijumlahkan.

**Ia dibayar oleh orang yang tidak berwenang memperbaikinya.** Yang menanggung
biayanya adalah pelaksana yang membuka berkas, sedangkan yang bisa memutuskan
perubahan bentuknya adalah pimpinan yang menerima jawaban yang sudah jadi. Bagi
yang memutuskan, sistemnya tampak berjalan dengan baik.

**Ia menyamar sebagai keahlian.** Orang yang mengetahui berkas mana yang berlaku
dan siapa yang harus dihubungi menjadi orang yang dicari lebih dulu setiap kali
ada pertanyaan. Kemampuan itu nyata dan patut dihargai. Namun, itu keahlian
mencari jalan di tengah kekacauan, bukan keahlian mengawasi, dan organisasi yang
bergantung padanya kehilangan kemampuan itu ketika orang tersebut pindah, karena
kemampuan itu jarang tersimpan di luar dirinya.

**Tidak ada yang mengukurnya.** Sebab inilah yang mengukuhkan ketiga sebab
sebelumnya. Selama biayanya tidak pernah menjadi angka, ia tidak bisa
dibandingkan dengan biaya memperbaikinya, dan usulan perbaikan apa pun akan
kalah oleh kesibukan yang kelihatan lebih mendesak.

## 4. Yang rusak

**Pertanyaan tidak lagi diajukan.** Kerusakan ini tidak meninggalkan jejak,
karena yang hilang justru pertanyaan yang tidak jadi diajukan. Ketika menjawab
menuntut usaha, orang menjadi terbiasa tidak bertanya kecuali terpaksa. Perilaku
yang menyesuaikan diri dengan biaya semacam itu sejalan dengan yang dijelaskan
Pirolli dan Card (1999). Pemantauan yang bisa berjalan terus-menerus menyusut
menjadi peninjauan berkala. Penyusutan itu jarang diputuskan, dan salah satu
sebabnya adalah biaya bertanya yang terlalu tinggi.

**Keputusan diambil berdasarkan angka yang belum dipastikan.** Karena memastikan
mahal, orang mengambil angka yang tersedia dan melanjutkan pekerjaan. Angka itu
mungkin benar. Yang hilang bukan ketepatannya, melainkan kemampuan mengetahui
apakah ia tepat.

**Perubahan kehilangan alasannya.** Berkas yang disunting berulang kali oleh
banyak orang menyimpan hasil akhirnya, tetapi tidak menyimpan alasan
perubahannya. Alasannya mungkin tersimpan di dokumen lain, tetapi tidak
berdampingan dengan angkanya, sehingga menemukannya kembali setahun kemudian
menjadi pekerjaan tersendiri.

**Yang berhak tahu harus meminta lebih dulu.** Ketika informasi tinggal di
berkas, hak membacanya melekat pada orang yang memegang salinannya. Akibat
buruknya datang dari dua arah, yaitu orang yang berhak tahu harus meminta,
sedangkan salinan yang telanjur tersebar tidak bisa ditarik.

## 5. Aturan perancangannya

**Aturan 1. Setiap informasi disimpan satu kali, dan punya alamat.** Bukan
disalin ke beberapa tempat lalu diselaraskan. Selama sebuah informasi punya
lebih dari satu tempat tinggal, memastikan versi akan selalu menjadi pekerjaan
seseorang. Satu alamat bukan berarti satu basis data untuk semua instansi, dan
bukan berarti mesin saling menarik data. Yang dituntut hanya satu tempat yang
sah bagi tiap informasi, dan satu pihak yang berwenang mengisinya serta bisa
ditanyai ketika angkanya dipersoalkan.

**Aturan 2. Perubahan meninggalkan jejak yang terbaca tanpa perlu membandingkan
dua berkas.** Yang dicatat bukan hanya nilai barunya, melainkan juga waktunya,
siapa yang mengubahnya, dan alasannya. Jejak yang menuntut orang membandingkan
dua salinan bukan jejak, melainkan pekerjaan tambahan.

**Aturan 3. Pertanyaan yang sering diajukan dijawab tanpa menyusun kembali
datanya.** Kalau menjawab pertanyaan yang sama menuntut penggabungan manual
setiap kali, yang dibangun baru sebatas tempat menyimpan berkas, belum alat yang
menjawab.

**Aturan 4. Hak membaca melekat pada peran, bukan pada kepemilikan salinan.**
Seseorang membaca karena jabatannya menuntutnya tahu, bukan karena ia kebetulan
ada di daftar penerima berkas. Aturan inilah yang membuat aturan pertama tidak
berubah menjadi pemusatan yang menyandera. Hak yang melekat pada peran juga bisa
dicabut ketika perannya berakhir, sedangkan salinan yang sudah dikirim tidak.

**Aturan 5. Biaya menjawab diukur, bukan diperkirakan.** Aturan inilah yang
membuat keempat aturan sebelumnya bisa dibela dengan angka, bukan dengan kesan.
Tetapkan beberapa pertanyaan yang sering diajukan, catat berapa lama menjawabnya
sebelum ada perubahan apa pun, dan catat lagi sesudahnya.

## 6. Cara mengetahui aturan ini berhasil

Keempat pertanyaan berikut memeriksa Aturan 1 sampai 4 tanpa alat ukur khusus.
Aturan 5 terpenuhi ketika jawaban keempatnya dicatat sebagai angka, bukan
disimpan sebagai kesan.

1. Berapa orang yang harus dihubungi untuk memperoleh angkanya, di luar mereka
   yang dihubungi untuk meminta persetujuan? Kalau jawabannya bukan nol,
   informasinya belum punya satu alamat.
2. Berapa lama sampai seseorang tahu apa yang berubah pada rencana sejak
   ditetapkan, berikut alasannya?
3. Berapa berkas yang harus dikumpulkan dulu untuk menjawab satu pertanyaan
   tentang keadaan hari ini, dan berapa lama seluruhnya sampai angkanya keluar?
4. Kalau seorang pejabat baru menjabat hari ini, berapa lama sampai ia bisa
   membaca yang menjadi haknya tanpa meminta izin siapa pun?

## 7. Batas klaim

Tulisan ini menyatakan aturan perancangan dan cara mengukurnya. Ia tidak
melaporkan hasil pengukuran. Perbandingan sebelum dan sesudah sedang berjalan
pada satu inspektorat dan akan dilaporkan terpisah.

Aturan ini lahir dari satu inspektorat provinsi, bukan dari perbandingan banyak
instansi. Perumusnya sekaligus perancang alatnya dan penggunanya, dan kelak ia
pula yang mengukur hasilnya. Konflik peran itu tidak dapat dihilangkan, hanya
dapat dinyatakan. Perbandingan sebelum dan sesudah pada satu tempat juga tidak
dapat memisahkan pengaruh perubahan bentuk dari sebab lain, misalnya kebiasaan
yang makin terbentuk, pergantian pimpinan, perubahan peraturan, atau perhatian
baru yang muncul justru karena ada yang sedang diukur. Karena itu, angkanya
lebih kuat daripada kesan, tetapi belum bukti.

Gagasan yang menopang uraian di atas bertumpu pada kepustakaan yang sudah ada,
dan tulisan ini tidak mengakuinya sebagai gagasan sendiri. Stigler (1961) sudah
merumuskan bahwa mencari informasi pun memakan biaya. Gagasan bahwa satu fakta
sebaiknya disimpan sekali, dalam bentuk yang pertanyaannya bisa dijawab langsung
tanpa menyusun ulang datanya, berakar pada model relasional yang diperkenalkan
Codd (1970). Pirolli dan Card (1999) menjelaskan bahwa orang menimbang hasil dan
biayanya ketika menelusuri informasi, lalu mengubah perilakunya ketika biaya itu
terasa. Biaya tersendiri untuk menyatukan informasi yang terpecah di antara
penyelenggara urusan publik juga sudah lama disadari, antara lain oleh Pardo dan
Tayi (2007), meski yang mereka bahas penyatuan antarlembaga dan bukan antarunit
di dalam satu lembaga. Star dan Strauss (1999) menguraikan bahwa kerja yang
tidak tercatat di mana pun cenderung tidak terlihat, dan yang tidak terlihat
tidak terhitung.

Yang dikemukakan sebagai sumbangan hanya dua. Pertama, biaya itu paling tidak
terlihat justru pada pertanyaan yang terdengar paling murah. Kedua, usul supaya
biaya itu diukur sebagai indikator tersendiri alih-alih diperkirakan.

Tulisan ini juga tidak menghitung biaya menerapkan kelima aturan itu. Usulnya
hanya satu, yaitu biaya menjawab dan biaya memperbaiki sama-sama berupa angka
ketika dibandingkan.

Tulisan ini membahas cara informasi perencanaan pengawasan disimpan. Ia tidak
membahas objek pemeriksaan mana pun, tidak memuat hasil pemeriksaan, dan tidak
menilai satuan kerja tertentu.

---

## Rujukan

Codd, E. F. (1970). A relational model of data for large shared data banks.
*Communications of the ACM, 13*(6), 377-387.
https://doi.org/10.1145/362384.362685

Pardo, T. A., & Tayi, G. K. (2007). Interorganizational information integration:
A key enabler for digital government. *Government Information Quarterly, 24*(4),
691-715. https://doi.org/10.1016/j.giq.2007.08.004

Pirolli, P., & Card, S. (1999). Information foraging. *Psychological Review,
106*(4), 643-675. https://doi.org/10.1037/0033-295X.106.4.643

Star, S. L., & Strauss, A. (1999). Layers of silence, arenas of voice: The
ecology of visible and invisible work. *Computer Supported Cooperative Work
(CSCW), 8*(1-2), 9-30. https://doi.org/10.1023/A:1008651105359

Stigler, G. J. (1961). The economics of information. *Journal of Political
Economy, 69*(3), 213-225. https://doi.org/10.1086/258464

## Tentang penulis

Faizul Abrori adalah auditor pada Inspektorat Aceh. Sebagian besar waktunya
untuk reviu dan pemeriksaan keuangan daerah. Selebihnya ia merancang dan
membangun sendiri perkakas yang dipakainya bekerja, lalu menuliskan pengalaman
dan pandangan pribadinya atas praktik pengawasan. Catatan ini salah satunya.

Surel **halo@fairi.id**. Tulisan lain dan riwayat lengkapnya di
**https://fairi.id**

> Pandangan dalam tulisan ini adalah pandangan pribadi penulis dan bukan sikap
> resmi Inspektorat Aceh.
